Central CCTV turut berbelasungkawa atas musibah gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer. Hingga akhir Agustus 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan puluhan ribu warga mengungsi dan puluhan ribu rumah mengalami kerusakan akibat gempa tersebut.
Bencana besar seperti ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur apa pun, termasuk perangkat keamanan seperti CCTV dan DVR penyimpanan rekaman, bisa ikut rusak atau hilang bersama bangunan yang runtuh. Padahal, rekaman CCTV kerap menjadi dokumen penting, misalnya untuk klaim asuransi properti maupun investigasi pascabencana.
Risiko yang Dihadapi Sistem CCTV Konvensional Saat Bencana
- Perangkat DVR/NVR penyimpanan lokal berpotensi rusak akibat guncangan atau tertimbun reruntuhan.
- Aliran listrik yang terputus dapat menghentikan perekaman tanpa cadangan daya.
- Rekaman yang hanya tersimpan secara lokal berisiko hilang permanen jika perangkat keras rusak.
Kenapa CCTV dengan Penyimpanan Cloud Lebih Tangguh
Berkaca dari risiko tersebut, sistem CCTV modern kini banyak dilengkapi opsi penyimpanan cloud sebagai lapisan pengamanan tambahan di luar penyimpanan fisik di lokasi.
- Rekaman otomatis tersalin ke server cloud sehingga tetap dapat diakses meski perangkat di lokasi rusak.
- Akses dari jarak jauh memungkinkan pemilik properti memantau kondisi terkini tanpa harus berada di lokasi.
- Riwayat rekaman dapat digunakan sebagai bukti pendukung untuk proses klaim asuransi maupun pelaporan kerusakan.
- Sebagian sistem cloud modern juga dilengkapi notifikasi otomatis saat kamera mendadak offline, sehingga pemilik cepat mengetahui adanya gangguan.
Central CCTV: Merancang Sistem Keamanan yang Siap Menghadapi Kondisi Darurat
Central CCTV membantu pelanggan di Palangkaraya dan Kalimantan Tengah merancang sistem CCTV yang tidak hanya andal dalam kondisi normal, tetapi juga mempertimbangkan skenario darurat.
- Konsultasi pemilihan sistem penyimpanan, baik lokal, cloud, maupun kombinasi keduanya.
- Rekomendasi catu daya cadangan (UPS) agar kamera tetap merekam saat listrik padam sesaat.
- Pemasangan kamera yang mempertimbangkan struktur bangunan agar lebih aman dari risiko kerusakan.
- Pendampingan teknis pasca pemasangan untuk memastikan sistem tetap berjalan optimal.
Kesimpulan
Gempa NTT menjadi pengingat besar bahwa kesiapan menghadapi bencana tidak hanya soal jalur evakuasi dan logistik, tetapi juga soal menjaga agar data dan dokumentasi penting, termasuk rekaman keamanan, tidak ikut hilang. Central CCTV mendorong penggunaan sistem CCTV dengan cadangan penyimpanan yang lebih tangguh, sehingga properti Anda tetap terdokumentasi dengan baik dalam kondisi apapun.
Referensi
- Gempa NTT 2026 Magnitudo 7,7, Mengapa Tsunaminya Tak Sedahsyat 1992? – detikInet
- Gempa NTT M7,7 Masuk Daftar Terbesar Dunia 2026, Ini Urutannya – CNBC Indonesia
- Korban Gempa NTT Bertambah: 83 Meninggal, 110.785 Mengungsi – Tempo.co
